neroi.space

Memaknai kembali tuhan dan tujan

Apa alasanku masih ada disini? secara personal sepertinya tidak ada. Aku hanya melakukan seenaknya yang ku mau asal tidak mengganggu orang lain .

Afterlife? no thanks, satu kehidupan sudah cukup bagiku. Jika memang satu ini yang kupunya, aku akan menjalaninya seenaknya dan tanpa penyesalan. Namun tanpa penyesalan cenderung memiliki arah yang negatif, misal seperti bersenang-senang seolah hidupmu hanya untuk hari ini. Kupikir hal itu bukanlah hal yang salah, jika memang esok hari adalah kiamat, maka hari ini adalah hari yang salah untuk menyesal. Namun bukan itu yang kumaksud "tanpa penyesalan", bukan sepenuhnya, maksudku adalah akan kulakuka seenaknya seperti esok hari adalah hari terakhirku, namun dunia akan terus berjalan tanpa diriku.

Pertanyaan "mengapa" akan selalu ada disana menungguku, hingga di ranjang kematian aku tidak yakin aku akan sampai ke momen ini . Jawaban dari pertanyaan "mengapa" tidak akan pernah sama bagiku, "mengapa" yang kumiliki sekarang mungkin akan berbeda 5 menit setelah aku menulis ini. Menurutku semua bentuk kehidupan adalah sebuah keindahan tak terhingga, yang akan mekar menjadi bunga-bunga kebahagiaan, kesedihan, dan keingintahuan. Meski dari bunga itu juga melahirkan banyak duri kesedihan.

Aku tidak ingin bunga itu mati begitu saja, setidaknya aku ingin melihat bunga itu mekar seutuhnya. Bukan hanya untuk bunga milik umat manusia, tapi seluruh ladang bunga yang bernama Bumi. Menurutku, daripada disebut bunga, umat manusia saat ini lebih pantas disebut benalu yang mencoba memakan dirinya sendiri. Jika dibandingkan dengan usia bumi ini, kita barulah sebuah benih yang ditanam kemarin sore. Sebuah benih yang sombong dan keras kepala, sebuah benih yang sekaligus menjadi hama bagi dirinya sendiri. Namun terlepas dari seluruh keluhan yang kumiliki, aku ingin tetap percaya pada umat manusia.

Hal "seenaknya" yang coba kulakukan adalah mencoba mengurangi dampak buruk dari umat manusai di bumi ini. Meskipun aku tidak akan lama berada disini, tapi ladang ini adalah ladang yang sangat berharga bagiku. Hal pertama yang kulakukan adalah mencoba lebih menghargai tempat ini. Karena disini setidaknya di tempatku lahir dan tinggal orang-orang kebanyakan lebih mementingkan tempat setelah mereka "mati". Hal itu seperti sebuah pisau bermata dua, ketidakbergantungan kepada hal-hal duniawu akan membuat hidup lebih damai, namun hal itu juga membawa sisi lain yang merusak, jika hal buruk yang mereka lakukan disini tidaklah penting, karena kehidupan yang mereka dambakan bukanlah disini. Hal yang kumaksud disini adalah Agama.

Agama tidaklah semuanya buruk, pada awal peradaban umat manusia, agama menjadi landasan dasar moral yang membawa kita ke titik ini. Konsep dosa atau karma adalah alat kontrol yang luar biasa ampuh untuk kita umat manusia, namun saat ini, manfaat tersebut sudah tidak sebanyak masalah yang dibawa. Ku ulangi sekali lagi, tidak semua agama atau orang beragama adalah buruk atau jahat, namun kebanyakan dari mereka adalah demikian.

Sebuah keputusan yang berat memang untuk meninggalkan apa yang kita percaya sejak awal kita dapat memahami bahasa. Ungkapan seperti "Tuhan telah mati, dan kitalah yang membunuhnya" dari Friedrich Nietzsche kupikir dapat menggambarkan sebagian besar apa yang ingin ku ungkapkan. Agama yang dulunya adalah hal yang sakral, kini hanya tersisa sebagai simbol dan identitas kelompok. Agama bukan lagi menjadi sebuat tujuan agung yang ada di tiap individu, tapi malah menjadi dinding pemisah antara satu individu dan individu yang lain. Kita telah membunuh dan menghianati arti agung dari agama setidaknya agama yang dulu kuanut, clue: aku adalah mayoritas ;) sebagai tujuan transendental yang melebihi cakupan dunia, sebagai pemberi arti dari tiap penderitaan, dan sebagai pembenaran dalam setiap kebaikan yang tak terbalaskan di dunia.

Tapi bukan itu yang kulihat selama ini, agama menjadi pelarian orang-orang pengecut yang gagal dalam hidup dan menyalahkan takdir yang diluar pemahama manusia. Orang-orang dengan mudahnya membenarkan kejahatan seperti perang bahkan eksekusi orang tak bersalah atas nama Tuhan. Orang-orang dengan mudahnya berperan sebagai tangan-tangan dan mulut Tuhan untuk kepentingan diri dan kelompok mereka. Orang-orang seperti itu adalah penghianat dari Tuhan yang sebenarnya.

Aku percaya Tuhan mungkin ada, tapi bukan tuhan yang selama ini kita sembah dan puja-puja. Karena Tuhan yang ada saat ini adalah seorang penipu, karena kita adalah pencipta dari Tuhan tersebut, kita adalah gambaran dari Tuhan, tapi sebenarnya Tuhan adalah gambaran dari diri kita yang sombong dan keras kepala.

Jika kau bertemu Tuhan, apa yang akan Kau katakan? jika kau ingin tau jawabanku, aku sudah menyampaikan jawaban pertamaku satu tahun lalu, di fase depresiku yang terburuk. Jika memoriku benar, kurang lebih seperti ini:

Terimakasih Tuhan telah memberiku sebuah pengalaman hidup yang indah ini, maafkan aku telah menjadi orang yang gagal untuk menjalani hidup ini dengan bahagia, selama ini aku berada di dalam sangkar emas kehidupan, aku mengabaikan hidup ini untuk sesuatu yang abu-abu setelah aku tiada, betapa egoisnya diriku menutup telinga dari tangisan yang ada disekitarku, masalah yang ada di dunia saat ini.

Saat itulah aku berpisah dengan Tuhan dan tujuan hidupku yang lama. Dunia setelah kematian adalah urusan Tuhan jika itu memang ada , tapi disini, di dunia ini, semua ini adalah urusan kita semua. Kita adalah utusan-utusan Tuhan yang dipercaya untuk menjaga Bumi ini.

Jika untuk kebaikan Bumi ini aku harus membayar dengan nyawaku, maka itu adalah sebuah harga yang sangat murah. Jika satu nyawa mampu menyampaikan pesan untuk kebaikan manusia, maka itu bukanlah apa-apa. Namun kenyataan berkata lain, Satu Suku bahkan Satu Negara tidaklah cukup untuk membuat kita semua sadar akan tindakan buruk yang selama ini kita lakukan. Banyak orang-orang serakah diluar sana yang mencoba memperoleh semuanya untuk diri mereka sendiri, dan memang seperti itulah kehidupan, orang-orang yang serakah akan berada diatas orang-orang biasa seperti kita semua. Tentu orang-orang serakah itu tidak peduli soal apa yang terjadi setelah mereka mati, apa dampak yang akan mereka tinggalkan untuk masa depan, mereka mencoba membuat rakit dengan mencabut papan-papan dari kapal yang kita tumpangi bersama-sama. Tidak hanya mereka, tapi kita semua akan tenggelam dimakan badai waktu di masa yang akan datang.

Bersambung . . . .

Dibuat: 18 Jun 2024
Terakhir diubah: 10 Mar 2025