neroi.space

Selanjutnya, bertahan untuk sebuah rasa bersalah

Tulisan ini adalah kelanjutan dari tulisan Terakhir, untuk sebuah rasa bersalah. Biasanya aku menghapus atau menyembunyikan tulisan seperti itu beberapa minggu setelah perasaan itu tidak lagi relevan. Seperti musim yang terus berganti, perasaan yang sama akan kembali dan aku akan melakukan semuanya lagi, lagi, dan lagi.

Prolog

Tak terasa lima bulan telah berlalu, dan aku masih bernafas di sini untuk sekali lagi mengeluh soal kehidupan ini. Ada beberapa hal yang terjadi sejak saat itu, seseorang membaca tulisanku dan kami berbicara panjang soal itu, saling melempar pertanyaan mengenai kehidupan masing-masing mengejar cerita yang sudah lama tak tersambung. Saat itu aku sudah baik-baik saja, malah bisa dibilang aku sedang berada di puncak dari kehidupan.

Akhir November, saat aku membuat tulisan itu rasanya kehidupan seperti berada di tepi jurang. Pagar penghalang yang perlahan menghilang satu demi satu dan suara yang terus berbisik memintaku untuk melangkah maju. Aku sudah menyiapkan semuanya, tempat, cara, waktu, dan surat terakhir yang akan kutinggalkan. Tetapi ada satu hal yang masih mengganjal di dalam kepalaku, dan itu menjadi seutas tali yang masih mengikatku di atas sini.

Tali terakhir itu adalah rasa bersalah yang akan kutinggalkan untuk keluargaku. Sebenarnya hubungan kami tidak sedekat itu, aku bahkan tidak pernah tau apa yang mereka inginkan dariku. Hubungan kami tidak baik namun juga tidak buruk, kami sama-sama ada di sana memenuhi peran masing-masing seolah-olah tanpa berharap apa-apa, dan hidup dalam dunia kami sendiri-sendiri. Sebenarnya dari sisiku, rasanya aku gagal untuk masuk ke dalam masyarakat, awalnya mereka cerewet soal itu "tetangga bla bla bla bla", namun semakin kesini sepertinya mereka juga mulai tidak peduli dengan itu. Lagi pula usiaku sudah setua ini, hal-hal seperti itu sudah menjadi urusanku sendiri.

Rasanya tidak adil jika aku meninggalkan permintaan maaf ini di atas kertas, komunikasi searah untuk hal semacam ini, aku sangat membenci hal itu. Jika aku ingin benar-benar pergi, setidaknya aku harus memberikan kesempatan untuk orang yang membesarkanku untuk tau kenapa aku ingin melakukan itu, dengan mengatakanya sendiri. Mungkin memberikan mereka kesempatan untuk menahanku atau mengutukku terjun ke dalam neraka terdalam. Meski hanya sebatas salam perpisahan, aku ingin menatakannya sendiri. Karena hal itu aku harus menunggu hingga aku bisa bertemu mereka secara langsung.

Dunia serasa tenang dan berhenti

Akhir Desember, sudah satu bulan hal ini terus berbisik di dalam kepalaku, berputar-putar seperti sebuah rekaman kaset tua. Sebuah perasaan negatif yang terus berputar dan semakin membesar seperti sebuah bola salju. Isi kepalaku seperti benang kusut tak tau arah, rasa bersalah, rasa putus asa, rasa sedih, rasa sepi, dan rasa lega semua saling bergandengan dan untuk beberapa saat semua perasaan itu memutus ikatanku dengan dunia.

Untuk beberapa saat semuanya terasa kosong, bukan sebuah perasaan kosong yang sedih namun sebuah perasaan kosong yang lega. Aku tak tau bagaimana harus menjelaskannya, rasanya seperti aku memegang kendali atas semuanya. Tiga hari sebelum Malam Natal, tiap sore setelah jam kerja aku pergi ke alun-alun kota untuk duduk memandang kerumunan yang lalu-lalang dan mencoba membuat cerita dari tiap interaksi yang mereka lakukan.

Di sore terakhir sebelum aku pergi dari sana, aku berjalan menyusuri trotoar tanpa punya tujuan. Di sebuah perempatan, di sebuah meja makan untuk empat orang, seorang sedang menikmati makanan seorang diri. Rasanya tidak sopan melihat diriku ada di sana, tidak semua orang adalah orang kesepian seperti diriku.

Mencoba kembali

Malam Natal, perjalanan kereta terakhirku untuk tahun ini, enam jam paling pendek dalam hidupku. Malam tahun baru, dari sebuah undangan yang tak pernah kubayangkan, circle yang bahkan setengah anggotanya aku tak tau, mengajakku menghitung detik untuk awal tahun baru. Biasanya aku tak pernah ikut kegiatan semacam itu, bahkan untuk acara angkatanku, aku memilih berdiam diri di dalam kamar kosku.

Awalnya aku tidak tau kenapa jawaban default untuk ajakan acara semacam itu adalah tidak. Dari lorong paling belakang kepalaku selalu berteriak untuk menghindari kegiatan yang melibatkan banyak orang yang berkumpul di satu tempat tanpa tujuan yang jelas, ditambah jika kepalamu selalu berteriak jika tidak ada yang menginginkanmu di sana.

Mungkin selaman ini aku bukan hidup untuk diriku. Aku hidup untuk bayangan dari ekspektasi sosial masyarakat yang tidak sejalan dengan nilai diriku. Mungkin tanpa sadar diriku memberontak, meminta untuk lepas dari penerimaan orang lain, dan memohon untuk sekali lagi didengarkan. Mungkin selama ini aku jauh dan asing dengan diriku sendiri, mencoba mengejar fatamorgana dari penerimaan sosial.

Terimakasih, telah bertahan sejauh ini untuk menemukan dirimu lagi.

Semua terlihat berwarna di Januari

bagaimana rasa membuang semuanya? kepercayaan, tujuan, dan dirimu.

Rasanya Bebas dan Kosong.

Tahun ini aku memiliki daftar panjang, aku tidak bisa langsung mengganti semua-semua yang telah ku buang, tapi aku beryukur aku memiliki kesempatan untuk melakukan ini. Aku masih hidup setelah keputusasaan itu, aku akan menggunakan kesempatan ini untuk lebih tidak peduli, lebih banyak bersuara, dan benar-benar menjadi diriku.

Semua hal yang selama ini ku pendam, aku akan mencoba lebih memahaminya. Jika itu yang benar-benar aku inginkan, aku tidak peduli, aku akan melakukannya. Jika suatu saat aku menyesal dengan keputusan itu, setidaknya aku melakukan apa yang aku inginkan. Aku yang lama telah mati, membawa penyesalan karena tidak dapat menjadi dirinya sendiri. Hidup keduaku berawal di sini, untuk kalian yang mengenal diriku yang lama, terimakasih dan sampai jumpa.

You have two lives, the second one begins when you realize you only have one.

Dibuat: 5 Apr 2024
Terakhir diubah: 10 Mar 2025