Lagi-lagi semua itu kembali
Bayang-bayang yang berdiri di sudut hatiku kembali menyapaku, membawa rasa kosong dan putus asa yang selama ini kuabaikan. Pada akhirnya untuk apa semua ini, jika aku tak tau apa yang sebenarnya kuinginkan.
Sebelumnya kau ingin memberikan latar belakang sebelum semua ini terjadi, lagi. Jadi beberapa minggu lalu semester baru dimulai, singkat cerita aku mengambil magang untuk semester ini. Semuanya berjalan baik-baik saja, bahkan terlalu baik jika kau tanya pendapat jujurku. Aku dapat tempat dengan lingkungan yang bagus serta tempat tinggal yang terjangkau dan lingkungan yang mendukung. Dari kegiatan ini aku juga mulai mendapat pembagian antara kehidupan pribadi dan pekerjaan, aku mulai dapat memisahkan porsi keduanya dari kehidupanku, aku bekerja pagi hingga sore hari dan bermain game dengan temanku di malam hari, semua terlihat lebih teratur di kehidupanku yang sekarang. Selain itu kecemasan sosialku juga mulai berkurang, aku berani membuka percakapan dengan orang lain, aku mulai berani mengambil langkah awal untuk diriku sendiri.
Namun sepertinya semua itu terlalu indah untuk berlangsung selamanya, aku kembali ke sisi gelap di dalam hatiku. Rasanya datang begitu tiba-tiba, lagi-lagi aku bertanya untuk apa aku melakukan semua ini. Aku kembali merasa tidak ingin lagi terbangun, aku ingin menghilang dan dilupakan, atau aku ingin berhenti dari ini semua. Lagi-lagi aku kehilangan rasa bahagia saat melakukan semua hal, bahkan kerja keras dan validasi yang kudapat semua itu sebatas hubungan sebab akibat. Lagi-lagi aku mempertanyakan apa yang sebenarnya kuinginkan, kenapa tidak berhenti saja dari semua ini, dan untuk apa aku melakukan semua ini.
Mungkin saja ini hanya karena aku pindah di lingkungan baru, dan merasa sedikit kesepian. Tapi rasanya selama ini rasa kesepian itu selalu ada bersamaku, atau semua ini membuka luka yang sebenarnya masih ada. Mungkin aku memang pantas untuk mendapatkan semua ini, dari semua yang kulakukan dan semua yang sudah terjadi. Rasanya aku membutuhkan seseorang untuk kembali, namun berseberangan dengan itu aku tidak ada keinginan untuk membuat ikatan dengan orang lain. Aku tak ingin menjadi beban bagi orang lain karena aku merasa tak berharga bagi siapapun. Mungkin aku harus berdamai dengan kekosongan di dalam dadaku ini, dan membuat kesedihan menjadi perasaan tidak apa-apa.